HEADLINE NEWS

Selasa, 10 Mei 2011

Penyuap Dihukum Paling Singkat 5 Tahun

Hati-hati bagi Anda yang ingin untuk menyuap. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengagendakan penyuap dihukum sesingkat-singkatnya lima tahun. “Sehingga bisa menghapus grasi ataupun pembebasan bersyarat,” ungkap Wakil Ketua KPK M Jasin di Bali, Selasa (10/5).

Usulan tersebut menurut Jasin didorong dalam RUU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Menurutnya sudah saatnya penyuap juga dihukum berat agar muncul efek jera dan tidak ada lagi yang berani melakukan perbuatan itu. Apalagi, selama ini banyak penyuap yang ditagkap KPK dihukum maksimal selama lima tahun. Namun karena mendapat fasilitas pengurangan hukuman, akhirnya rata-rata masa hukuman yang dijalani tak lebih dari dua tahun.

Sedangkan Chair dari kelompok kerja anti penyuapan dalam bisnis internasional OECD, Profesor Mark Peith menyatakan sanksi sosial harus dimasukkan dalam RUU Pemberantasan Tipikor. “Hukuman penyuap di negara OECD beragam, tapi tidak akan optimal bila dihukum lama,” terangnya pada kesempatan sama.

Seharusnya, lanjut Peith, harus dicantumkan dalam UU yaitu mencantumkan sanksi sosial bagi penyuap. “Ini yang akan menekan keberanian orang untuk menyuap,” tegasnya.
Selengkapnya...

Wafid Akui Sempat Bicara Empat Mata dengan Bazaruddin

Bendahara Umum (Bendum) Partai Demokrat M Nazarudin sempat terlibat obrolan empat mata dengan Sesmenpora Wafid Muharam. Pernyataan tersebut, diungkapkan langsung oleh Wafid melalui kuasa hukumnya Erman Umar. "Pak Wafid memang pernah ngobrol berdua dengan Nazarudin," ujar Erman, ketika menemani pemeriksaan Wafid, di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (10/5).

Erman mengatakan, pengakuan Wafid ini telah masuk dalam Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) KPK. Menurut dia, obrolan kliennya dengan Nazarudin ini bersifat eklusif lantaran atasan Wafid, Andi Mallarangeng pun tidak mengetahuinya. "Pak Andi tidak ada di pertemuan itu," tegas dia.

Ditambahkan Erman, perkenalan Wafid dengan Nazarudin melalui campur tangan Mindo Rosaline Manulang selaku bawahan Nazarudin di PT Anak Negeri. "Pak Wafid dikenalkan dengan Nazarudin melalui Rosa," tandas dia.
Selengkapnya...

I Wayan Koster disebut-sebut minta Rp10 miliar ke Wafid

Politisi PDIP I Wayan Koster disebut sebagai Koordinator Komisi X yang meminta Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) untuk menyediakan uang sebesar Rp10 miliar.

"Dia (Wayan) meminta uang di muka Rp10 miliar," kata sumber di Jakarta, Selasa (10/5).

Menurut sumber itu, angka Rp 10 miliar itu diajukan sebagai "jatah preman" untuk menggolkan pengajuan tambahan anggaran Kemenpora. Ditambahkan, nilai Rp10 miliar itu tidak bisa lagi ditawar. "Nggak mau kurang," tegas dia.

Kemarin, Wihistle Blower kasus Traveller Cheque (TC) Agus Condro Prayitno mengaku mendengar pengakuan langsung Direktur Marketing PT Anak Negeri, Mindo Rosaline Manulang, kalau ada kordinator di Komisi X yang mendesak Sesmenpora Wafid Muharam untuk menyiapkan sejumlah dana agar permintaan Kemenpora untuk meminta penambahan anggaran bisa digolkan seluruh anggota Komisi X.

Menurut Agus, orang yang disebut sebagai koordinator itu adalah temannya yang juga berasal dari PDIP. "Rosa ini cerita, ada permintaan dari gedung sebelah (sebelah gedung Kemenpora, DPR-red), untuk apa? Ya, supaya mempercepat turunnya anggaran," ungkap Agus.
Selengkapnya...

Penyelundupan Heroin 1,496 Kg Digagalkan

Petugas Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Surakarta, Jawa Tengah, menggagalkan penyelundupan heroin seberat 1,496 kilogram yang bernilai Rp2,992 miliar di Bandara Adi Soemarmo, Senin.

"Si pembawa heroin, Christina Aritonang (51), warga Negara Indonesia asal Pontianak, ditangkap oleh petugas di terminal B Adi Soemarmo kurang lebih pukul 12.30 WIB," kata Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Surakarta, Gatot Hartono, di Solo.

Menurut dia, tersangka yang menumpang pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan AK-540 jurusan Kuala Lumpur, Malaysia-Surakarta, membawa heroin dengan menyimpannya di dinding koper.

Berdasarkan hasil dari analisa barang berupa heroin tersebut diketahui oleh petugas setelah koper milik tersangka ke luar dari mesin pemeriksaan atau Sinar X. Petugas melihat koper itu melalui monitor mesin X-Ray kemudian curiga.

Petugas kemudian melakukan pemeriksaan mendalam terhadap barang bawaan penumpang tersebut dengan mengeluarkan isi dalam koper tersangka.

Setelah melakukan pemeriksaan lebih mendalam pada isi koper tersebut, maka ditemukan barang berupa bubuk warna putih kecokelatan diduga barang larangan berupa heroin golongan satu.

Petugas kemudian melakukan uji barang yang mencurigakan tersebut dengan menggunakan "narco test", menunjukkan barang narkotika golongan satu jenis heroin.

Tersangka dan barang bukti langsung diamankan dan diserahkan ke Kepolisian Resor Boyolali untuk pengembangan lebih lanjut. Tersangka saat diperiksa oleh petugas bandara mengaku dirinya tidak mengetahui bahwa kopernya ada barang larangan tersebut.

Akibat perbuatan tersangka tersebut dapat dijerat Undang Undang No 35/2009, tentang Narkotika golongan satu. Penyelundupan narkotika golongan satu di Indonesia adalah pelanggaran pidana sesuai pasal 113 ayat 1 dan 2 UUNo 35/2009, dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun.

Namun, jika barang terlarang tersebut beratnya lebih dari lima gram, pelaku dapat di pidana mati, seumur hidup atau paling lama 20 tahun dan denda maksimum Rp10 miliar.
Selengkapnya...